Realisme Fotografis Dalam Gejala Budaya Media*

Realis dapat didefinisikan sebagai deskripsi gamblang, akurat, tanpa tambahan apa pun, atau alami, yaitu dari kehidupan sehari-hari. Dalam media fotografi, realis kemudian dipandang lebih cocok digunakan, sebab menghubungkannya dengan citra yang terekam oleh kamera. Realis dalam fotografi dapat dikatakan adanya kesesuaian antara objek yang dipotret dengan citra yang tercetak dalam selembar kertas. Dilihat dalam konteks seni rupa, citra realis dalam fotografi akan menjadi berbeda karena kesesuaian realitas yang terekam oleh kamera, merupakan citraan naturalis yang dianggap lebih alami. Antara naturalis dan realis nampak sama, tetapi sebenarnya istilah tersebut mempunyai konotasi berlainan dan dalam penggunaannya sering dipertukarkan. Citra realis dalam seni rupa, yang kemudian dalam keseharian sering digunakan dengan istilah realisme, yaitu bukan hanya sekedar menangkap realitas tetapi juga suatu konsep yang dengan sadar ingin dicapai melalui karya fotografi yang dihasilkan oleh sang senimannya (Soedarso, 2006: 86-87). Bagi Barthes sendiri, citra-citra realis terutama dalam foto dan film menghasilkan suatu ilusi dari realitas (illusion of reality) yang menampilkan efek realitas (reality effect) (Jono Irianto, 2010: 1). Maka dalam hal ini penulis mencoba mengaitkannya, bahwa istilah realisme fotografis berangkat dari keunggulan teknologi fotografi sebagai medium yang dianggap lebih obyektif dalam merepresentasikan realitas visual dengan tingkat presisi yang tinggi dan memiliki efek realitas ketika memandang citra-citra realis dalam suatu fotonya.

Perkembangan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan produksi citraan, telah mengubah persepsi masyarakat masa kini mengenai realita, mengenai dunia. Saat ini sulit menetapkan apakah realita yang sesungguhnya, tatkala persepsi manusia dibentuk oleh serbuan citraan dan tontonan, menghasilkan apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai society of spectacle. Persepsi mengenai realita pada masyarakat masa kini memang dibentuk dan bersandar pada budaya tontonan. Masyarakat tidak menyadari manipulasi politis dan komersial yang ditanamkan pada benak mereka secara langsung melalui pesawat televisi di ruang-ruang keluarga, ataupun dari berbagai media bergambar yang dikonsumsi masyarakat, seperti iklan-iklan baliho bergambar di ruang publik (Lovejoy, 2004: 113).
Only since the 1960s—in response to a breakdown in the solidity of the ‘real,’ Its massive mediation by new technologies of the visible, the increasing numbers of images permeating everyday life and concomitant transformations in what considered ‘art’— have philosophers, critics, and most crucially, artists themselves returned to the repressed term ‘simulacrum’ and revived it as a crucial concepts for interrogating postmodern artistic practices and theories of representation”(S. Nelson, Robert dan Shiff, Richard, 2003: 35).
Apa yang dianggap sebagai realita saat ini sesungguhnya selalu merupakan konstruk yang dibentuk oleh berbagai kepentingan yang kadang saling bertabrakan. Karena itu sulit menetapkan apa sesungguhnya “realita’ saat ini. Istilah simulakrum menunjukkan bagaimana seseorang sulit menetapkan realita yang sesungguhnya, karena yang tampil dihadapan seseorang adalah copy dari copy. Memperhatikan cara berada foto sebagai media yang dikonsumsi masyarakat, dapat dilihat, bahwa foto merupakan tirani baru dalam masyarakat karena dua hal. Pertama, foto mendominasi model pengetahuan seseorang dengan menggeser bentuk-bentuk representasi lainnya, terutama tulisan. Fungsi unik dari foto sebagai salah satu bentuk representasi, noeme(esensi) foto adalah that-has-been, berbeda dengan noeme tulisan (linguistik) yang fiksional atau juga berbeda dengannoeme film (tha-has-passed) yang menghadirkan realitas seperti biasa. Kedua, foto direpresentasikan melalui kaidah-kaidah kultural tertentu untuk menghasilkan stereotype, yaitu ready-made elements of signification. Kehadiran foto dalam media-media informasi masyarakat bukan hanya membuat jinak, namun juga menjinakkan para konsumen fotonya. Gejala ini dapat mengancam kemanusiaan seseorang, dalam arti bahwa foto memudarkan gairah hidup atau kata Barthes, “de-realize the human world of conflicts and desires, under cover of illustrating it” –derealisasi desire menjadi bentuk dehumanisasi melalui foto. Gejala derealisasi dan dehumanisasi dialami ketika seseorang tidak dapat mengungkapkan desire atau pleasurekecuali melalui gambar-gambar yang sudah mapan, yaitu gambar-gambar yang mengalami banalisasi dan sterotipisasi (Sunardi, 2002: 216).
Hal ini sangat kontras dengan apa yang dilukiskan Barthes bahwa foto dapat menjadi medium pengembangan pribadi. Usaha Barthes untuk menemukan noeme foto dan fungsinya bagi spectator adalah untuk mengembangkan self –pemahaman secara subjektivitas. Pengembangan self  ini dilakukan melalui proses mengamati foto sebagai penemuan makna (semiotik). Proses perubahan dari that-has-been ke there-is meliputi suatu kegiatan membaca, proses tawar menawar antara spectator dan spectaculum –sebuah proses yang menempatkan subjek sebagai subjek yang menyadari sedang menjadi objek. Proses ini secara skematis dimulai dari studium (penyesuaian spectator dengan budaya foto yang popular di masyarakat) ke punctum (keputusan spectator untuk memusatkan perhatian pada titik tertentu melalui bahasa subjektifnya).
Mendiagnosis atas kedudukan budaya foto yang terbentuk pada pola masyarakat yang mengkonsumsi gambar akan mendapatkan dua persoalan yang saling berkaitan. Masalah pertama, menyangkut hubungan antara privat dan publik dalam mengkonsumsi foto publik tanpa menghancurkan foto yang dibahasakan secara subjektif untuk memenuhi desire spectator.
“The reading of public photographs is always, at bottom, a private reading. Each photograph is read as the private appearance of its referent: the age of Photography corresponds precisely to the explosion of the private into the public, or rather into the creation of new social value, which is the publicity of the private: the private is consumed as such, publicly.”(Barthes, 1981: 98).
Masalah kedua menyangkut kedudukan foto sebagai bentuk representasi. Sebagai salah satu bentuk representasi, kedudukan foto publik tidak dapat melampaui vertigo of Time defeated atau melalui foto publik, seseorang ditempatkan dalam posisi tidak mengalami vertigo itu. Budaya fantasi adalah gejala dari situasi di mana seseorang terperangkap dalam foto publik (mass image) dengan realismenya, seperti yang dikatakan Barthes dalam kutipan Camera Lucida berikut:
“The realists, of whom I am one and of whom I was already one when I asserted that the Photograph was an image without code –even if, obviously, certain code do inflect our reading of it – the realists do not take the photograph for a ‘copy’ of reality, but for an emanation of past reality: a magic, not art” (Barthes, 1981: 88). “…to subject its spectacles to the civilized code of perfect illusion, or to confront in it the wakening of intractable reality.” (Barthes, 1981: 119).
Barthes mengajukan jalan keluar atau hipotesis atas dua persoalan yang saling berkaitan  tersebut. Seseorang (spectator) harus mengkonfrontasikan realisme yang diperoleh melalui studium dengan realisme yang diperoleh daripunctum. Disebut realisme karena, secara kodrati, foto adalah evidence (bukti) dan dengan demikian seseorang merasa langsung hadir dalam realitas yang difoto. Realisme yang diperoleh dari studium disebut dengan realisme relatif, sedangkan realisme yang diperoleh dari punctum disebut dengan realisme absolut. Melalui realisme relatif, seseorang (spectator) dapat mengikuti maksud dari produsen (fotografer) gambar secara umum yang dikonsumsi oleh publik, sedangkan melalui realisme absolut seseorang (spectator) menciptakan makna atau bahasanya sendiri tanpa harus mengikuti maksud sang fotografer. Jalan keluar ini harus dilihat sebagai cara untuk menjadi pembaca foto yang aktif tanpa harus bersikap anti terhadap mass image. Dengan membedakan dua macam realisme dalam fotografi, seseorang (spectator) dapat memiliki strategi untuk mengonsumsi mass image yang dibedakan antara privat dan publik. Hipotesis Barthes –mengenai privat adalah ruang yang diciptakan oleh realisme absolute dan publik oleh realisme relatif- meneguhkan bahwa seseorang yang percaya atau tidak khawatir akan mass image, karena seseorang (spectator) dapat menciptakan image yang diinginkan.
Seseorang butuh proses pemahaman yang bermula dari rasa tidak percaya dan bukan hanya pengalaman hadir secara langsung dalam realitas. Jarak antara spectator dan realitas dapat dijembatani oleh pemahaman (understanding). Hidup pada realisme relatif dan realisme absolut adalah antara liberal-palsu dan fanatik-otentik. Persoalan muncul jika seseorang (spectator) tidak lagi memiliki ruang privat, absolut, naluri untuk fanatik-otentik. Hal ini disebut juga dengan politik identitas, strategi melindungi diri dari publik (Sunardi, 2002:221) Melalui cara demikian spectator mengembangkan subjektivitasnya dalam the era of Photography. 
*Artikel ini juga dimuat di Forum Seni Budaya Filsafat – Retorika
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s