Perayaan Catur Brata di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta

This slideshow requires JavaScript.

 

Aroma wangi dupa menyeruak sampai ke luar Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur pada sehari sebelum hari raya Nyepi 30 Maret 2014. Sebelum peringatan Hari Raya Nyepi 1936, umat Hindu memperingati rangkaian ritual perayaan Catur Brata. Salah satu ritual dalam perayaan Catur Brata adalah upacara Buta Yadnya yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga” (bulan mati yang ke-9). Dalam upacara Buta Yadnya, umat Hindu  mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) sesuai kemampuannya. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata(kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya.

Mengenakan baju berhem putih bagi laki-laki dan kebaya bagi yang perempuan, umat Hindu yang tinggal di kawasan Jakarta Timur memasuki komplek Pura Aditya Jaya Rawamangun untuk mengikuti upacara Buta Yadnya. Sebelum masuk ke Mandale Utama untuk sembahyang, umat Hindu harus mengambil sesajen dan air suci serta tak lupa mengenakan selendang yang mengikat di bagian pinggang kebawah.  Selama ritual sembahyang atmosfer suci nan sakral terasa sekali menyelimuti disekitar lingkungan pura meskipun keberadaan pura terletak di pinggir jalan layang Tol Cawang-Tanjung Priok yang cukup ramai. Keramaian tersebut merupakan sebuah tantangan atas godaan yang harus dilawan selama melakukan rangkaian ritual Catur Brata.

Seusai melakukan doa, pemangku pura yang datang langsung memberikan berkat air suci ke setiap umat yang hadir di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Kemudian ritual selanjutnya adalah Tawur Agung yaitu, arak-arakan Ogoh-Ogoh, sosok patung buto, di pelataran Pura Aditya Jaya Rawamangun.

Dalam perayaan Catur Brata sendiri terdiri dari amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Inti dalam ritual Catur Brata adalah sebuah perenungan atau refleksi atas kesalahan yang pernah diperbuat seseorang. Catur Brata memiliki arti sudah tidak memikirkan masalah duniawi, semua kembali kepada iman.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s